INFOLADISHA – Saham-saham perbankan sering jadi bintang utama di pasar modal Indonesia.
Tidak jarang, justru sektor inilah yang pertama kali bangkit usai pasar mengalami keterpurukan. Karena itulah, membeli saham bank di harga murah sering dianggap strategi aman untuk mengincar cuan.
Namun, pertanyaan klasik selalu muncul: bagaimana cara tahu saham bank sedang murah atau malah kelewat mahal?
Jawabannya ada pada satu indikator populer yaitu Price to Book Value (PBV).
PBV dihitung dari harga saham dibagi dengan nilai buku.
Nah, nilai buku sendiri berasal dari total ekuitas perusahaan dibagi jumlah saham bberedar
Secara sederhana, nilai buku ini mencerminkan berapa besar nilai yang akan diterima jika perusahaan dilikuidasi.
Khusus emiten perbankan, PBV lebih sering dipakai dibanding Price to Earnings Ratio (PER).
Alasannya, laba bank sangat fluktuatif karena kompleksitas bisnisnya.
Sementara ekuitas relatif lebih stabil, sehingga PBV dinilai lebih akurat.
Lalu, kapan saham bank bisa disebut murah? Caranya dengan membandingkan PBV satu bank dengan bank lain yang sejenis, baik dari sisi aset, skala bisnis, hingga kategori modal inti (KBMI).
Semakin kecil PBV, semakin menarik saham tersebut dibanding pesaingnya.
Investor juga bisa melihat tren PBV dalam beberapa tahun lewat PBV band untuk tahu apakah harga saat ini masih di bawah rata-rata historisnya.
Selain valuasi relatif seperti PBV, ada juga metode valuasi absolut seperti Dividend Discount Model (DDM) dan Discounted Cash Flow (DCF).
Tapi untuk investor ritel, PBV jelas jadi senjata favorit karena lebih sederhana, mudah dihitung, dan cepat dibandingkan model lainnya.








