“Sudah saya perintahkan wilayah untuk ikut menjaga. Kebetulan lokasi itu masuk RW 8, RT 1. Sekitar pukul 03.00 WIB masih bersih, tetapi ketika dicek lagi pukul 03.30 WIB ternyata sudah ada coretan. Sepertinya memang kita dibuat kucing-kucingan,” ujar Erika.
Situasi ini membuat pengawasan terasa seperti pekerjaan tanpa akhir. Ketika coretan dibersihkan, pelaku bisa kembali beraksi dengan memanfaatkan waktu ketika tidak ada orang yang berjaga.
Baca Juga: Jalan Trase Batutulis Kini Bisa Dilalui 24 Jam, Ini Imbauan Pemkot Bogor
Erika mengakui, pemasangan CCTV bisa membantu mengungkap pelaku. Namun, kamera pengawas saja tidak cukup jika tidak dibarengi kesadaran masyarakat.
Menurutnya, tidak mungkin petugas terus berada di lokasi selama 24 jam. Kelurahan juga harus menangani berbagai persoalan lain, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan ketertiban warga.
Di sisi lain, Dedie mengingatkan bahwa keinginan mengekspresikan diri lewat grafiti bukan alasan untuk merusak fasilitas umum.
Pemkot Bogor, kata dia, sudah menyediakan taman corat-coret sebagai ruang bagi masyarakat yang ingin menyalurkan kreativitasnya.
“Ya, bukan hanya sekadar mengotori. Dan sudah kami siapkan taman corat-coret, silakan dipakai taman corat-coret. Jadi jangan merusak, jangan mengotori fasilitas publik,” jelasnya.
Sementara itu, pihak pelaksana proyek, PT Promix, masih melakukan pembersihan setiap kali ditemukan coretan. Pasalnya, trase baru Jalan Saleh Danasasmita masih dalam masa uji coba dan pemeliharaan.






