INFOLADISHA – Kasus dugaan hantavirus di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik kini menjadi perhatian dunia.
World Health Organization atau WHO disebut tengah memantau ketat insiden tersebut setelah tiga orang dilaporkan meninggal dunia.
Dari sejumlah kasus yang muncul, satu orang telah terkonfirmasi positif hantavirus sementara lima kasus lainnya masih dalam tahap penyelidikan.
Dunia kesehatan kembali diingatkan bahwa makhluk kecil bernama tikus ternyata masih konsisten jadi ancaman global.
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan Hantavirus Pulmonary Syndrome merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan kelompok virus hantavirus dengan reservoir utama hewan pengerat, terutama tikus liar.
Baca Juga: Libur Panjang Tetap Hemat, Begini Cara Atur Pengeluaran Biar Nggak Boncos
Menurutnya, virus ini pertama kali ditemukan di Korea Selatan pada 1976 dan diambil dari nama Sungai Hantaan, lokasi awal ditemukannya virus tersebut pada tikus sawah.
Dalam sejarahnya, wabah hantavirus yang sempat menggegerkan dunia terjadi pada 1993 di kawasan Four Corners, United States.
Saat itu, strain virus yang menyerang paru paru memiliki tingkat kematian sangat tinggi hingga mendekati 50 persen.
“Reservoir utama dari hantavirus itu adalah hewan pengerat seperti tikus liar. Kalau di Indonesia juga ditemukan pada tikus kota atau tikus rumah di beberapa lokasi, terutama yang sangat rawan di daerah pelabuhan,” kata Dicky.





