Sebab, internet rumah tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga menunjang berbagai aktivitas produktif.
“Dengan kecepatan 100 Mbps, masyarakat bisa membayar sekitar Rp140 ribu atau di bawah Rp200 ribu. Ini akan memberikan dampak ekonomi yang cukup tinggi bagi masyarakat,” jelasnya.
Baca Juga: Kuota Internet Android Boros? Ini 7 Pengaturan yang Bisa Bikin Data Lebih Hemat
Meski begitu, harga yang ditargetkan pemerintah belum berarti layanan tersebut sudah tersedia secara merata.
Perluasan jaringan fiber optik masih menjadi pekerjaan penting agar internet rumah bisa menjangkau lebih banyak kawasan permukiman.
Di sinilah tantangannya. Internet dengan tarif terjangkau tidak cukup hanya ditawarkan, tetapi juga perlu didukung jaringan yang tersedia di wilayah tempat masyarakat tinggal.
Di luar internet rumah, pemerintah juga menaruh perhatian pada pengembangan jaringan seluler generasi kelima atau 5G.
Nezar mengungkapkan, tingkat adopsi 5G di Indonesia saat ini masih di bawah 10 persen. Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, pemerintah ingin mendorong angka tersebut mendekati 30-40 persen.
“Penguatan infrastruktur menjadi yang pertama dan paling penting. Kita akan meningkatkan adopsi teknologi 5G yang saat ini masih di bawah 10 persen, dengan target mendekati 30 hingga 40 persen dalam tiga sampai lima tahun ke depan,” ungkapnya.





