Cara ini membantu menentukan bahan apa saja yang benar-benar perlu dibeli. Kebutuhan yang masih mencukupi tidak harus masuk daftar belanja berikutnya.
Untuk bahan makanan segar, pembelian bisa disesuaikan dengan rencana memasak.
Sayuran seperti bayam, kangkung, dan sawi, misalnya, dapat dibeli dalam jumlah yang realistis agar tidak berakhir di tempat sampah.
Hal serupa berlaku untuk buah. Pilih jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebiasaan konsumsi keluarga, bukan sekadar karena terlihat menarik saat berbelanja.
Sumber protein juga perlu diperhitungkan sejak awal. Telur, ayam, ikan, daging, tahu, dan tempe bisa menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan lauk sehari-hari.
Dengan menentukan menu terlebih dahulu, pembelian bahan makanan menjadi lebih terarah.
Risiko membeli terlalu banyak bahan yang akhirnya tidak sempat diolah pun bisa dikurangi.
Tidak semua barang harus dibeli setiap minggu
Kesalahan lain yang perlu dihindari adalah menganggap semua kebutuhan rumah tangga harus masuk keranjang setiap kali berbelanja.
Padahal, sejumlah produk memiliki masa simpan relatif panjang. Beras, pasta, mi kering, bumbu, rempah-rempah, biskuit, dan kecap, misalnya, bisa dijadikan persediaan selama penyimpanannya sesuai.
Produk kebersihan juga tidak selalu perlu dibeli setiap pekan.
Deterjen, sabun mandi, sampo, sabun cuci piring, tisu, dan pembersih lantai cukup dimasukkan dalam daftar ketika persediaannya mulai menipis.






Respon (1)