“Saya datang dari subuh, tapi jam 9 pagi sudah pulang. Pembeli ramai cuma sekitar jam 6 sampai jam 7 pagi,” ucap Asep.
Menurutnya, perubahan pola belanja masyarakat menjadi salah satu penyebab pasar tradisional kehilangan pembeli.
Warga kini lebih memilih membeli kebutuhan harian di warung atau pedagang kecil yang lebih dekat dari rumah.
“Sekarang hampir setiap kampung ada yang jual sayur, sembako sampai daging. Jadi masyarakat jarang ke pasar,” ungkapnya.
Asep juga menyebut banyak pedagang kecil di kampung mengambil barang langsung dari pasar di Kota Bogor atau dari petani.
Kondisi itu membuat distribusi barang di Pasar Cisarua ikut berkurang.
Di tengah kondisi tersebut, pedagang hanya bisa bertahan dengan menyesuaikan harga dan menjaga kualitas barang dagangan agar tetap dilirik pembeli.
“Salah satu cara agar kami tetap bertahan adalah bersaing harga dan menjaga kualitas barang,” kata Asep.
Sementara itu, Kepala Unit Pasar Tohaga Cisarua belum memberikan tanggapan saat dihubungi wartawan terkait keluhan para pedagang mengenai kondisi pasar yang semakin sepi.





