Pembahasan tersebut menempatkan golok bukan semata-mata sebagai benda peninggalan masa lalu, melainkan juga sebagai bagian dari warisan pengetahuan dan nilai budaya yang perlu terus dipahami.
Baca Juga: Soal Wacana Siswa Tinggal Kelas pada 2027, Ini Sikap Disdik Kota Bogor
Membahas Wangsit Siliwangi hingga Tritangtu
Gotra Sawala dipandu Ketua Sunda Langgeng Wisesa, Ki Karyawan Fathurahman.
Selain persoalan golok, diskusi juga menyinggung sejumlah topik dalam tradisi dan pemikiran Sunda, di antaranya Wangsit Siliwangi, uga, dan Tritangtu.
Forum ini menjadi ruang bagi para sesepuh untuk menyampaikan pemahaman serta bertukar pandangan mengenai nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dialog antarpeserta diharapkan dapat memperluas pemahaman bersama tentang kebudayaan Sunda.
Dengan begitu, tradisi tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan para sesepuh, tetapi juga dapat terus dipelajari dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Museum Pajajaran dan Nasib Pelaku Budaya Jadi Perhatian
Di luar pembahasan tradisi, pertemuan tersebut turut menyoroti persoalan yang dihadapi ekosistem kebudayaan Sunda.
Masa depan Museum Pajajaran, keberlangsungan kehidupan para budayawan, serta kondisi pelaku seni menjadi beberapa hal yang mendapat perhatian.
Para sesepuh menyambut positif penyelenggaraan Gotra Sawala dan mendorong agar forum serupa digelar secara rutin.






Respon (1)