Gangguan suasana hati ini diketahui memicu pola kebanyakan tidur. Ahli menduga depresi, bukan tidur itu sendiri, mungkin menjadi penyebab penurunan kognitif pada pasien tersebut.

Sementara itu, pada peserta yang tidak menunjukkan tanda depresi tapi tidur lebih dari 9 jam per malam mengalami penurunan fungsi kognitif, terutama dalam kognisi global dan reproduksi visual.
“Gangguan dalam durasi dan pola tidur berkontribusi terhadap peningkatan risiko defisit kognitif dan penyakit alzheimer,” kata Prof Young.
Meski penyebabnya belum diketahui secara jelas kenapa pola tidur mempengaruhi otak, studi lain di Swedia menduga penyebabnya disebabkan oleh ritme sirkadian, siklus alami tidur dan bangun.
Ahli di Karolinska Institutet berpendapat tidur siang mempengaruhi kemampuan otak untuk membersihkan limbah yang menumpuk selama aktivitas seharian. Tapi di sisi lain, kerusakan otak akibat demensia tahap awal juga bisa memicu kebutuhan kebanyakan tidur.





