Baca Juga: Jalan Suryakencana Bogor Mulai Lega, Skema Parkir Baru Dinilai Ampuh dan Siap Dilanjutkan
Sumber makanan itu berasal dari limbah organik rumah tangga yang masuk ke saluran air.
“Proses pembusukan dari sisa makanan yang masuk ke saluran air itu menjadi nutrien bagi sapu sapu. Itu yang membuat mereka cepat berkembang,” katanya.
Keberadaan ikan sapu sapu dinilai berpotensi mengganggu ekosistem sungai.
Bukan karena memangsa ikan lain, melainkan menghambat reproduksi ikan lokal.
Saat ikan lokal bertelur di batu atau dinding sungai, ikan sapu sapu kerap mengaduk sedimentasi dasar sungai.
Akibatnya telur tertutup lumpur dan gagal menetas.
Selain itu, ikan sapu sapu juga disebut dapat merusak struktur bantaran sungai.
Mereka membuat rongga di dinding tanah sebagai tempat bertelur.
“Kalau rongga rongga itu semakin banyak, bisa mengancam dinding sungai dan berpotensi longsor,” ucapnya.
Suparno mendorong pemerintah daerah melakukan langkah cepat seperti penangkapan massal yang pernah dilakukan di Jakarta.
Namun penanganan, kata dia, tidak boleh hanya fokus di Sungai Ciliwung.
“Iya, harus dilakukan. Tapi jangan hanya di Sungai Ciliwung, anak anak sungainya juga harus dibersihkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, penangkapan saja tidak cukup jika sumber makanan ikan sapu sapu masih tersedia.
Karena itu, pasokan limbah organik rumah tangga ke sungai juga harus dihentikan agar pengendalian lebih efektif.





