Ia menyebut jembatan tersebut memakai besi Wide Flange atau WF yang umumnya memiliki panjang 12 meter.
Sementara bentang Jembatan Gobang disebut melebihi ukuran tersebut, sehingga membutuhkan sambungan pada struktur utama.
Menurutnya, titik sambungan itu menjadi bagian yang rentan saat beban dan kondisi penyangga terganggu.
“Itu ada pilar, pilarnya roboh. Sambungan cuma dilas, lalu patah. Di atasnya beton jadi berat,” katanya.
Ujang menilai secara teknis konstruksi jembatan tersebut kurang ideal dari sisi keselamatan.
Kalimat halus versi teknis untuk mengatakan ada yang tidak beres sejak awal.
Jembatan Gobang diketahui dibangun menggunakan Bantuan Keuangan Infrastruktur Desa Tahun Anggaran 2025 senilai Rp1 miliar.
Jembatan sepanjang 33 meter dengan lebar 2 meter itu menjadi akses utama warga menuju Kampung Lebak Haur dan Desa Rabak.
Jalur tersebut dipakai warga untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga menuju tempat pemakaman umum.
Jadi bukan sekadar jembatan kecil yang bisa diabaikan sambil rapat berjam jam.
Pembangunan dimulai pada 9 September 2025 dan diresmikan pada 5 Maret 2026.
Namun kerusakan mulai terjadi pada 4 April 2026 dini hari saat Sungai Citempuhan meluap dan merusak tiang penyangga tengah.
Pada Rabu, 15 April 2026 sekitar pukul 03.30 WIB, jembatan itu ambruk total dan tak bisa lagi digunakan.





