INFOLADISHA – Baterai utama selama ini kerap dianggap sebagai komponen paling berisiko sekaligus paling mahal untuk diperbaiki pada mobil listrik.
Namun, hasil riset terbaru di Inggris justru menunjukkan gambaran yang berbeda.
Mengutip Carscoops, analisis yang dilakukan Warrantywise menemukan bahwa klaim garansi mobil listrik lebih banyak dipicu kerusakan pada komponen kelistrikan umum dan sistem suspensi dibandingkan baterai bertegangan tinggi.
Temuan tersebut diperoleh dari evaluasi ribuan permintaan perbaikan kendaraan listrik yang tercakup dalam polis garansi perusahaan tersebut.
Hasil riset memperlihatkan pola kerusakan mobil listrik tidak jauh berbeda dengan kendaraan bermesin bensin maupun diesel.
Baca Juga: Bukan Cuma iPhone, Ini 5 HP Android dengan Kamera Terbaik 2026 di Indonesia
Artinya, persoalan yang paling sering dihadapi pemilik kendaraan bukan berasal dari baterai utama, melainkan komponen pendukung lain yang digunakan dalam operasional sehari hari.
Laporan yang sama juga mencatat rata rata biaya perbaikan mobil listrik meningkat 10,7 persen sepanjang periode 2024 hingga 2025.
Kenaikan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan reliabilitas kendaraan yang menurun, tetapi juga dipengaruhi inflasi, meningkatnya biaya tenaga kerja, serta harga suku cadang yang lebih tinggi.
Meski penelitian dilakukan di pasar Inggris, temuan itu dinilai relevan bagi pasar global, termasuk Indonesia.





