INFOLADISHA – Kebiasaan menggeretakkan gigi saat tidur atau bruxism masih sering dianggap hal biasa.
Padahal, kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan gigi, kualitas tidur, hingga kondisi emosional bila terus dibiarkan.
Dalam dunia medis, bruxism terbagi menjadi dua jenis, yakni terjadi saat tidur dan saat terjaga.
Jenis yang muncul ketika tidur cenderung lebih sulit dikenali karena penderitanya tidak sadar sedang melakukannya.
Biasanya, keluhan baru terasa setelah muncul nyeri rahang, sakit kepala, atau gigi mulai rusak.
Baca Juga: Bangun Tidur Langsung Minum Air Putih, Kebiasaan Simpel yang Punya 7 Manfaat
Salah satu pemicu paling umum adalah stres dan kecemasan.
Saat tekanan emosional meningkat, tubuh dapat menyalurkan ketegangan melalui kontraksi otot, termasuk menggertakkan gigi saat tidur.
Selain itu, gangguan tidur seperti sleep apnea juga kerap dikaitkan dengan bruxism.
Kondisi ini membuat tidur tidak nyenyak dan meningkatkan aktivitas otot rahang di malam hari.
Faktor lain datang dari struktur gigi atau rahang yang tidak sejajar.
Posisi gigitan yang kurang pas dapat memicu gesekan berulang saat seseorang tertidur.
Gaya hidup juga berperan. Konsumsi kafein berlebihan, alkohol, serta kebiasaan merokok disebut dapat meningkatkan risiko bruxism.
Baca Juga: Cek Sekarang, Ini Kadar Kolesterol Normal Wanita Sesuai Usia





