Menurut Bardi, awalnya sejumlah ibu sedang mencuci di lokasi. Setelah sebuah benda berwarna merah masuk ke air, warna mata air kemudian terlihat berubah menjadi merah.
“Awalnya ibu-ibu pada menyuci di sana, tiba-tiba ada benda jatuh yang merah delima dan masuk ke air. Setelah itu warna airnya berubah jadi merah,” ungkap Bardi.
Mata Air Keramat Kareo sendiri telah lama dikenal masyarakat sebagai lokasi petilasan. Selain mata air, di kawasan tersebut juga terdapat makam.
Lokasi itu disebut kerap didatangi masyarakat dari berbagai daerah. Sebagian pengunjung datang untuk bersemedi dan menginap di sekitar lokasi.
Bardi mengatakan mata air tersebut sudah ada sejak lama dan dikenal pula sebagai Taman Sumber Air.
Sumber air itu tetap mengalir meski musim kemarau, tetapi menurutnya selama ini air digunakan untuk mandi dan mencuci, bukan untuk diminum.
“Memang dari dulu itu disebutnya Taman Sumber Air. Airnya selalu ada, bahkan di musim kemarau. Cuma airnya cuma bisa buat mandi dan cuci, tidak untuk diminum,” jelasnya.
Setelah kabar air berubah merah menyebar, Pemerintah Desa Cibadung berkoordinasi dengan pengurus RW setempat untuk menyikapi kondisi tersebut.
Kini, warna air di Mata Air Keramat Kareo telah kembali seperti semula. Air yang sebelumnya terlihat kemerahan sudah kembali jernih.
“Sekarang sudah kembali normal, sudah jernih. Tadinya saya mau koordinasi juga dengan dinas, karena takutnya ada yang iseng,” pungkas Bardi.





