Total kasus ISPA, pneumonia, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), asma, konjungtivitis, dan dermatitis tercatat turun dari 1.849 kasus pada 31 Agustus 2026 menjadi 1.669 kasus pada 7 September 2026.
Meski demikian, dua indikator yang berkaitan dengan pajanan abu vulkanik justru mengalami kenaikan.
Baca Juga: Festival Bogor Innovation Award 2026 Bidik Hilirisasi, 184 Inovasi Siap Unjuk Solusi
Kasus PPOK meningkat dari 24 menjadi 31 kasus. Sementara konjungtivitis atau iritasi mata naik dari 30 menjadi 36 kasus.
Kenaikan tersebut terpantau terkonsentrasi di sejumlah wilayah kerja puskesmas, di antaranya Pulo Armyn, Mekarwangi, dan Gang Kelor.
“Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kota Bogor telah meningkatkan intensitas surveilans di wilayah terkait,” ujar Erna.
Obat dan APD Dipastikan Tersedia
Selain memperketat pemantauan, Dinkes Kota Bogor memastikan kebutuhan obat dan alat pelindung diri (APD) tersedia di seluruh puskesmas.
Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan, terutama terkait cara mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
Erna mengimbau warga tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan kondisi lingkungan. Aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak sebaiknya dikurangi.
Saat harus beraktivitas di luar rumah, warga dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata.
Masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti gangguan pernapasan, mata merah dan perih, maupun iritasi kulit.





