“Ponsel lipat berisiko menjadi pajangan berharga mahal di jajaran produk, memberikan nilai gengsi tetapi bukan pertumbuhan yang berarti,” kata Chatterjee, dikutip BBC.
Kekhawatiran itu menjadi relevan karena iPhone merupakan produk terpenting Apple dan menyumbang lebih dari separuh penjualan perusahaan setiap tahun.
Bisa menjadi Vision Pro atau Apple Watch
Masa depan iPhone Duo pada akhirnya bergantung pada seberapa jauh Apple mampu mengembangkan kategori tersebut.
Chatterjee melihat dua kemungkinan. Perangkat ini bisa mengikuti jejak Vision Pro, yang diposisikan sebagai produk teknologi premium berharga tinggi tetapi belum menjadi perangkat massal.
Namun, ada skenario yang lebih positif. iPhone Duo dapat berkembang seperti Apple Watch dengan menciptakan kategori tersendiri.
Apple Watch memang tidak pernah menyamai skala penjualan iPhone. Kendati demikian, perangkat tersebut berhasil membangun pasar sendiri dan terjual kepada jutaan orang setiap tahun.
Dengan demikian, kesuksesan iPhone Duo tidak harus berarti menggantikan iPhone biasa. Apple hanya perlu membuktikan bahwa perangkat tersebut cukup bernilai untuk menciptakan pasar baru.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Apple mampu membuat iPhone yang bisa dilipat. Setelah delapan tahun pengembangan, jawabannya sudah terlihat.
Tantangan sebenarnya adalah apakah konsumen bersedia membayar hampir Rp35 juta untuk mengubah cara mereka menggunakan iPhone.





Respon (1)