INFOLADISHA — Persoalan pencemaran di Kali Citeureup kembali menjadi sorotan saat musim kemarau 2026.
Aliran sungai yang masih dimanfaatkan warga untuk kebutuhan air sehari-hari itu dilaporkan mengalami perubahan warna dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Kondisi tersebut dirasakan warga Kampung Bojong Engsel, Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup.
Meski wilayah itu telah mendapat bantuan alat pengolahan air bersih dan shelter air yang memanfaatkan aliran Kali Citeureup, kualitas air sungai dinilai belum layak digunakan secara langsung, terutama untuk dikonsumsi.
Warga menyebut warna air Kali Citeureup kerap berubah, mulai dari hitam, merah, kuning, cokelat hingga keruh. Perubahan itu juga disertai aroma yang menyengat.
Baca Juga: Jembatan Ranggamekar-Batutulis Dibongkar dan Diperlebar, Warga Diminta Siap Hadapi Gangguan Akses
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bogor, Farid Ma’ruf, meminta pemerintah kecamatan dan desa segera melakukan pendataan terhadap pihak yang diduga membuang limbah ke aliran sungai.
“Saya menitipkan pesan kepada Pak Camat dan Kepala Desa untuk mendata pihak-pihak yang membuang limbah sembarangan ke sungai, baik perusahaan maupun individu. Segera diundang dan diajak berdiskusi,” kata Farid saat meninjau Desa Tarikolot, belum lama ini.
Saat melihat kondisi sungai, Farid bahkan menyindir perubahan warna air Kali Citeureup yang dapat terjadi dalam waktu singkat. Ia menyebut kondisi tersebut seperti “keajaiban dunia ke-9”.





