INFOLADISHA – Pernahkah Kamu bertemu dengan orang yang marah marah saat ditagih utang? Bahkan menyalahkan balik si penagih. Reaksi seperti ini kerap membuat penagih merasa serba salah dan enggan menindaklanjuti.
Ada banyak faktor yang mungkin memicu seseorang menjadi agresif atau defensif ketika ditagih utang. Berikut ini adalah beberapa penyebabnya:
1. Merasa Terancam
Perencana Keuangan Financial Consulting Eko Endarto menuturkan sebagian orang menganggap pinjaman uang bukanlah hal yang harus dikembalikan. Sehingga sejak awal, mereka mungkin tidak berniat untuk mengembalikannya saat ditagih utang.
“Kita menganggap suatu pinjaman itu hal yang biasa, bukan suatu hal yang harus dikembalikan. Sehingga orang yang meminjam tadi nggak berniat mengembalikannya,” katanya.
2. Stres Tinggi
Memiliki utang memiliki kaitan yang erat dengan stres tinggi. Sebuah studi di Amerika Serikat belum lama ini menemukan lebih dari satu dari tiga orang dewasa muda mengalami tekanan penagihan utang pada usia sekitar 40 tahun.
Studi ini mengonfirmasi bahwa tekanan dari penagihan utang berhubungan dengan meningkatnya gangguan psikologis, serta dampak yang lebih parah pada individu muda berpenghasilan rendah.
Dalam sebuah studi lain, orang yang memiliki utang memiliki risiko depresi, kecemasan, dan stres tiga kali lebih besar. Ini secara langsung berkaitan dengan kekhawatiran saat ditagih utang.
Dalam sebuah survei yang dilakukan Money and Mental Health Policy Institute, beberapa penyebab gangguan kesehatan mental akibat utang meliputi penagihan yang mengabaikan kondisi kreditur, nada komunikasi dari penagih yang mengandung ancaman, hingga frekuensi komunikasi yang berlebihan dari penagih.






