“Kemarin saya ke Jepang bersama Kepala DLH (Rudi Mashudi). Di Greater Tokyo saja ada 22 PSEL untuk menangani sampah mereka. Di Bogor kita baru ada dua, yaitu di Galuga dan Kayu Manis,” katanya.
Baca Juga: Peringati Hari Anak Nasional 2026, BRI Salurkan Bantuan Pendidikan untuk SDN Sukamahi 2 Bogor
Untuk kapasitas, PSEL Kayu Manis dirancang mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah setiap hari. Sementara PSEL Galuga memiliki kapasitas lebih besar, yakni mencapai 1.500 ton per hari.
Di sisi lain, Dedie mengajak masyarakat mulai membiasakan memilah sampah sejak dari rumah.
Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat didaur ulang, sedangkan sampah residu akan dikirim ke PSEL untuk diolah menjadi energi.
Menurutnya, hasil pengolahan tidak hanya berupa listrik. Abu sisa pembakaran atau Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) juga akan dimanfaatkan kembali sebagai material konstruksi.
“Sisa sisanya tidak banyak, nanti dari hasil pasirnya kita olah lagi jadi paving block, road base, kanstin, dan macam macam. Jadi semuanya bermanfaat,” ujar Dedie.





