Lagu yang teridentifikasi sebagai sampah atau spam kemudian dibatasi agar tidak masuk ke dalam rekomendasi editorial.
Dikutip dari Engadget, Spotify menyebut perubahan tersebut mulai menunjukkan hasil. Perusahaan melaporkan penurunan signifikan dalam keluhan pendengar terkait kemunculan konten semacam itu di rekomendasi.
Meski begitu, Spotify menyadari upaya pembersihan ini tidak bisa dilakukan sekali saja. Pelaku spam dapat mengubah pola pengunggahan untuk menghindari sistem moderasi, sehingga mekanisme deteksi perlu terus diperbarui.
Baca Juga: Jangan Asal Rakit PC! Ini 6 Kesalahan yang Bisa Bikin Boros Biaya dan Ganggu Performa
Bukan sekadar mendeteksi musik buatan AI
Untuk menyaring konten bermasalah, Spotify menggunakan sejumlah indikator, mulai dari metadata lagu, laporan pengguna, pola pengunggahan, hingga perangkat pendeteksi AI dari pihak ketiga.
Namun, musik yang dibuat menggunakan AI tidak serta-merta dapat disamakan dengan spam.
Tantangannya terletak pada bagaimana membedakan karya yang memang ditujukan untuk pendengar dengan unggahan yang dibuat secara massal dan berpotensi mengakali sistem rekomendasi.
Spotify juga mengakui perangkat pendeteksi AI masih memiliki keterbatasan. Seiring berkembangnya teknologi generatif, konten yang sengaja dibuat untuk membanjiri platform bisa semakin sulit dikenali.






