Sebaliknya, referensi mengenai Mahkota Binokasih justru lebih banyak ditemukan dalam catatan sejarah dari luar Bogor, khususnya Sumedang.
Ia bahkan menyebut dalam literatur klasik “Sejarah Bogor” karya Saleh Danasasmita (1982), nama Binokasih tidak disinggung sebagai bagian dari tradisi lokal Bogor.
Oleh karena itu, ia mendesak agar rencana perubahan ini tidak dilakukan secara tergesa-gesa tanpa kajian akademis yang mendalam.
Baca Juga: Kebijakan Strategis Pemkot Bogor Soal Sampah Sejalan Dengan Gerakan Indonesia ASRI Presiden
Di sisi lain, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merencanakan perubahan tersebut sebagai bagian dari penataan menyeluruh kawasan Suryakencana.
Pemprov Jabar berencana melakukan pembenahan infrastruktur mulai dari jalan, lampu penerangan, trotoar, hingga taman di sepanjang jalur tersebut.
Langkah ini dimaksudkan agar Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bisa lebih fokus melakukan penataan hingga ke tingkat kelurahan.
Menanggapi tawaran tersebut, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyambut positif niat penataan kawasan dari Pemerintah Provinsi.
Meski mengapresiasi perhatian Pemprov Jabar, Dedie menegaskan bahwa proses ini tidak bisa instan.
Pelaksanaan program harus melewati tahapan perencanaan yang matang, sinkronisasi anggaran, hingga penyesuaian tata ruang yang berlaku agar tetap sejalan dengan regulasi dan aspirasi masyarakat.





