Ada bagian tembok rumah, jalan lama, hingga bentangan lahan yang dahulu merupakan kawasan permukiman warga.
Bagi warga yang masih mengenal kawasan tersebut, pemandangan itu bukan sekadar perubahan permukaan air.
Bagian waduk yang kembali terbuka seperti memperlihatkan kembali potongan kampung yang selama ini hilang dari pandangan.
Anwar Hidayat, warga setempat, mengatakan penyusutan air tahun ini berbeda dibandingkan sebelumnya.
Menurut dia, kondisi saat ini merupakan yang paling parah yang pernah dilihatnya.
“Sekarang lebih parah. Tahun ini paling parah,” kata Anwar.
Ia masih mengingat kawasan yang kini kembali terbuka itu sebagai permukiman. Dahulu, terdapat jalan yang menjadi akses menuju Darmaraja.
“Dulu ini permukiman, ada jalan tembusan ke Darmaraja,” ujarnya.
Di lahan yang kembali muncul, tanda-tanda kehidupan baru juga terlihat. Tanah mengering dan retak, sementara kerang-kerang mati berserakan di sejumlah titik.
Rerumputan yang tumbuh di bekas area genangan justru menjadi sesuatu yang dimanfaatkan warga.
Anwar, yang mencari rumput untuk pakan kambing, mengaku mendapat manfaat dari kondisi tersebut.
Di sisi lain, kemunculan kembali rumah-rumah dan masjid lama juga membangkitkan ingatan tentang warga yang dahulu tinggal di sana dan kemudian berpindah setelah kawasan tersebut terdampak pembangunan waduk.






Respon (1)