Namun seiring berjalannya angsuran, kini tersisa sekitar Rp1,9 miliar.
Angka yang menurun, meski tetap cukup untuk membuat siapa pun sulit tidur.
Ia menambahkan, jumlah korban diduga lebih banyak dari yang tercatat saat ini.
Sebab, baru 14 orang dengan kerugian besar yang melapor, sementara korban lain dengan nominal lebih kecil belum seluruhnya terdata.
Menurut Sanusi, para korban merasa tertipu dan saat itu hanya mengikuti permintaan yang disebut untuk kepentingan kantor.





