Lima bendera tersebut memiliki makna tersendiri. Masing-masing merepresentasikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara. Bendera itu juga menjadi simbol persatuan dan kecintaan kepada Tanah Air.
Bagi Dedie, kemeriahan FMP bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.
Festival tersebut sudah digelar selama 11 tahun dan kini menjadi salah satu tradisi masyarakat Kota Bogor dalam menyambut hari kemerdekaan.
Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk menjaga semangat nasionalisme dan patriotisme. Nilai yang sama juga diharapkan bisa diteruskan kepada generasi muda.
“Yang pertama, ini tradisi yang sudah dibangun dari Bogor dan sudah berlangsung yang ke-11 kali. Ini meneguhkan komitmen warga Kota Bogor untuk selalu membangkitkan rasa nasionalisme, patriotisme, dan tentu saja terus membangun kecintaan kepada Tanah Air dan bangsa,” ujarnya.
Ramainya FMP tahun ini ternyata tidak hanya berdampak pada suasana kota. Aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut bergerak.
Dedie menyebut ada tamu dari luar daerah yang datang untuk mengikuti atau menyaksikan rangkaian kegiatan.
Beberapa di antaranya berasal dari Bandung, Samarinda hingga Medan.
Kehadiran warga dari berbagai daerah tersebut dinilai memberikan peluang bagi pelaku usaha di Kota Bogor.
“Mulai dari anak kecil, pelajar, perguruan tinggi berbaur menjadi satu bersama masyarakat dari berbagai kalangan. Semuanya terlihat bergembira dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan. Ini juga ternyata memiliki dampak ekonomi,” katanya.





