3. Mengaku tidak punya kelemahan
Pertanyaan mengenai kelemahan sering dianggap sebagai jebakan. Padahal, pewawancara dapat menggunakan pertanyaan tersebut untuk melihat seberapa baik kandidat mengenali dirinya sendiri.
Jawaban seperti “Saya tidak punya kelemahan” atau menjadikannya bahan lelucon justru berisiko memberikan kesan bahwa kandidat enggan mengakui kekurangan.
Kandidat tidak perlu mengungkap kelemahan yang berpotensi mengganggu pekerjaan secara serius. Pilih satu kemampuan yang memang masih perlu ditingkatkan, kemudian jelaskan langkah yang sedang dilakukan untuk memperbaikinya.
Jawaban seperti ini menunjukkan adanya kesadaran diri sekaligus kemauan untuk belajar.
4. Menggunakan “perfeksionis” sebagai jawaban aman
“Saya seorang perfeksionis” selama bertahun-tahun kerap dipakai sebagai jawaban ketika kandidat ditanya mengenai kelemahan.
Namun, menurut konselor Larry Michel, jawaban tersebut belum tentu diterima sebagai kelebihan terselubung.
Bagi pewawancara, klaim sebagai perfeksionis dapat memunculkan pertanyaan lain seperti apakah kandidat membutuhkan terlalu banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan? Apakah ia kesulitan menentukan prioritas? Atau justru sulit mendelegasikan tugas?
Daripada sekadar memberi label pada diri sendiri, kandidat dapat menjelaskan bagaimana menjaga kualitas pekerjaan.





