Misalnya, ceritakan proses pengecekan data, cara mengatur prioritas, atau sistem kerja yang digunakan untuk mengurangi kesalahan tanpa mengorbankan efisiensi.
Dengan begitu, kualitas kerja ditunjukkan melalui contoh, bukan sekadar sebuah kata.
5. Mengatakan “saya benci bekerja di sana”
Pengalaman kerja yang buruk boleh saja menjadi alasan seseorang mencari pekerjaan baru. Namun, membawa emosi tersebut secara mentah ke ruang interview bisa menjadi persoalan tersendiri.
Terapis Gloria Brame memperingatkan bahwa pernyataan bernada kebencian terhadap pekerjaan atau tempat kerja sebelumnya dapat memengaruhi cara pewawancara melihat kematangan emosional kandidat.
Daripada berfokus pada rasa tidak suka, pembicaraan dapat dialihkan pada alasan positif di balik perpindahan pekerjaan.
Kandidat bisa menjelaskan lingkungan seperti apa yang ingin dicari, kemampuan yang ingin dikembangkan, serta kontribusi yang ingin diberikan kepada perusahaan baru.
6. Membanjiri pewawancara dengan jargon
Istilah teknis memang penting dalam bidang tertentu. Namun, terlalu banyak jargon justru dapat membuat jawaban sulit dipahami, terutama jika orang yang mewawancarai kandidat tidak memiliki latar belakang teknis yang sama.
Profesor Brit Brogaard menyarankan kandidat menggunakan bahasa yang lebih sederhana ketika menjelaskan pengalaman dan pencapaiannya.





