INFOLADISHA – Wawancara kerja bukan sekadar kesempatan bagi pelamar untuk menjelaskan pengalaman dan kemampuan.
Bagi tim rekrutmen, percakapan singkat tersebut juga menjadi momen untuk membaca cara kandidat menghadapi tekanan, menerima kekurangan, hingga berbicara tentang orang lain.
Karena itu, jawaban yang terdengar sepele bisa memberi kesan berbeda dari yang dimaksudkan.
Bahkan, beberapa ungkapan yang kerap digunakan untuk membuat diri terlihat profesional justru dapat menjadi sinyal peringatan bagi pewawancara.
Dikutip dari Your Tango, sejumlah pakar karier dan psikolog menyoroti beberapa pola bahasa yang sebaiknya dihindari ketika menjalani interview.
Baca Juga: WhatsApp Tambah Kontrol Orang Tua, Aktivitas Grup Anak Kini Bisa Dipantau
Kandidat disarankan menjaga pembicaraan tetap konstruktif, jelas, dan mengarah pada kontribusi yang bisa diberikan di tempat kerja baru.
Berikut enam jenis ungkapan yang berpotensi membuat pewawancara memberi perhatian lebih.
1. Menjelekkan bos atau kantor lama
Membicarakan pengalaman buruk di perusahaan sebelumnya memang tidak selalu bisa dihindari. Namun, mengubah jawaban menjadi sesi untuk mencela mantan atasan justru dapat merugikan kandidat.
Pelatih karier Lisa Petsinis mengatakan calon pemberi kerja tidak mengetahui seluruh konteks konflik yang pernah terjadi di tempat kerja sebelumnya.





