“Jadi timbunan api dalam sekapnya dibalik, lalu disemprot, dibalik, lalu disemprot,” ujar Jenal.
Petugas juga membuat kanal dan lereng untuk membatasi area terdampak. Cara ini dilakukan untuk melokalisasi titik api sehingga tidak menjalar ke bagian lain dari kawasan TPA.
Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau, Jangan Tertipu Minuman yang Diklaim Bisa Bersihkan Paru-paru dari Abu Vulkanik
Upaya pemadaman juga diperumit oleh kondisi angin. Hembusan yang cukup kencang berpotensi membuat api kembali berkobar dan merambat ke timbunan sampah lainnya.
Alat Berat Tak Bisa Menjangkau Semua Titik
Sekitar 36 personel gabungan diterjunkan untuk menangani kebakaran. Mereka berasal dari unsur pemadam kebakaran, BPBD, Tagana, serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor.
Empat unit alat berat berupa beko dan ekskavator turut digunakan untuk membongkar timbunan dan membantu proses pemadaman.
Namun, tidak semua titik bisa dijangkau alat berat. Medan di kawasan tersebut berbukit dan labil sehingga pengerahan alat berat memiliki risiko keselamatan, termasuk kemungkinan alat terguling.
Kepulan asap yang cukup tebal juga membuat jarak pandang di beberapa titik terbatas. Karena itu, keselamatan personel menjadi salah satu pertimbangan utama selama proses penanganan.
Jenal mengatakan keberadaan gas metana di dalam timbunan sampah juga berpotensi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan api kembali muncul.






Respon (2)