”Dulu alatnya masih manual dan harus dinyalakan petugas. Sekarang jauh lebih canggih karena dipasang di samping kali Cisadane dan di tengah pemukiman. Jika air mencapai ketinggian tertentu, alarm akan otomatis berbunyi,” jelasnya.
Tak hanya banjir, Panaragan juga menjadi lokasi pertama di Kota Bogor yang memasang alat deteksi dini longsor di RW 01 melalui bantuan Badan Informasi Geospasial (BIG) dan BPBD.
Ima menambahkan bahwa simulasi evakuasi bersama masyarakat juga telah rutin dilakukan guna meminimalisir risiko jatuhnya korban. Pembangunan Infrastruktur dan Program ‘Gerobak Saepisan’, dalam kurun waktu 2025 hingga 2026, realisasi pembangunan fisik di Panaragan cukup masif.
Mulai dari pembangunan paving block di RW 07, penggunaan beton dekoratif (stamped concrete) di jalan-jalan lingkungan, hingga perbaikan kanstin di Jalan Veteran.
Wilayah RW 02 Panaragan juga ditunjuk sebagai lokasi program “Gerobak Saepisan” (Bogor Bebas Kumuh). Program ini mencakup tujuh indikator keberhasilan, mulai dari perbaikan sarana prasarana hingga pemberdayaan UMKM lokal.
“RW 02 menjadi titik fokus karena letak geografisnya yang diapit beberapa sungai, sehingga butuh intervensi sarana yang lebih berdaya agar terlepas dari kategori kumuh,” tambah Ima.
Meski progres pembangunan berjalan positif, Kelurahan Panaragan masih menghadapi tantangan besar terkait penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Veteran.





