Dalam kondisi leher dipiting, Raka mengaku diseret melewati beberapa titik. Ia juga menyebut sempat mendapat tamparan sebelum dibawa ke area minimarket.
Di sana, Raka kembali menegaskan bahwa dirinya merupakan jurnalis Metropolitan.id. Ia menunjukkan kartu identitas pers kepada pria tersebut.
“Saya pers dari Metropolitan. Ini ID card saya,” ujar Raka menirukan ucapannya saat itu.
Kartu identitasnya sempat diambil, tetapi kemudian dikembalikan. Raka mengaku setelah itu dibawa ke area bawah jembatan biru dan ditempatkan bersama dua mahasiswa yang juga diamankan.
Masalah tak berhenti sampai di situ. Raka mengatakan telepon genggamnya sempat hendak disita. Ia juga diminta menghapus rekaman video dugaan pengeroyokan yang sebelumnya diambil saat meliput demonstrasi.
Permintaan itu ditolaknya.
“Dia minta video, video suruh dihapus, gua nggak mau,” tegas Raka.
Bagi Raka, video tersebut merupakan bagian dari dokumentasi saat menjalankan tugas jurnalistik. Namun, ia justru harus menghadapi situasi ketika kebebasannya merekam peristiwa di lapangan dipersoalkan.
Raka akhirnya bisa melepaskan diri saat orang-orang yang membawanya lengah.
Pengalaman Raka juga diceritakan oleh Regi, saksi mata yang berada di lokasi. Ia membenarkan bahwa Raka dibawa oleh dua orang berpakaian sipil yang berada di tengah barisan pengamanan polisi.







Respon (1)