Dedie mengatakan bangunan yang menjorok ke badan jalan nantinya akan dibongkar agar akses Jalan Dewi Sartika tidak lagi terhambat.
“Sehingga dari Alun-Alun sampai dengan Jalan Sawojajar itu lurus,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyebut pengembangan kawasan Stasiun Bogor tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas layanan kereta, tetapi juga mengembalikan identitas historis stasiun.
Baca Juga: 138 Emas Jadi Modal, Kabupaten Bekasi Kembali Bidik Papan Atas Porprov Jabar
Bangunan Stasiun Bogor yang berdiri sejak 1881 akan menjadi bagian depan atau wajah dari New Stasiun Bogor.
Menurut Bobby, terdapat tiga konsep utama dalam pengembangan kawasan tersebut.
Salah satunya adalah memperkuat konektivitas antara Stasiun Bogor, Stasiun Paledang, dan kawasan di sekitarnya, termasuk keterhubungan dengan berbagai moda transportasi lain.
Selain konektivitas, KAI juga mengembangkan konsep spasial yang menghadirkan ruang terbuka sekaligus ruang usaha dan aktivitas ekonomi melalui pendekatan Transit Oriented Development (TOD).
Proses revitalisasi sendiri telah berjalan dalam beberapa bulan terakhir. KAI telah menyelesaikan penataan peron 6, 7, dan 8 yang kini kembali dibuka dengan peron yang lebih panjang serta dilengkapi kanopi.
Perubahan tersebut disebut mampu meningkatkan kapasitas angkut harian hingga 30 persen dibandingkan sebelumnya.






Respon (2)