INFOLADISHA – Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin membantu perusahaan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat.
Namun, di balik manfaat tersebut, ada tantangan yang perlu diantisipasi, mulai dari kebutuhan penyimpanan data yang terus meningkat hingga risiko serangan siber.
Kondisi ini terlihat dalam survei Synology. Hampir 88 persen responden di Indonesia mengaku khawatir dengan inefisiensi penyimpanan akibat pertumbuhan data AI dan duplikasi data.
Kekhawatiran lainnya muncul dalam hal pemulihan sistem setelah serangan siber.
Hanya sekitar dua dari 10 perusahaan yang sangat yakin bisa memulihkan operasional dengan cepat setelah terkena ransomware, sekaligus memastikan data cadangan mereka tetap aman.
Baca Juga: Tabung Gas Bocor di Dapur SPPG Cinangka Kabupaten Bogor, Dua Karyawan Tersambar Api
Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan AI perlu diikuti dengan kesiapan infrastruktur dan perlindungan data yang memadai.
Clara Hsu, Indonesia Country Manager Synology, mengatakan AI kini semakin banyak digunakan dalam berbagai kegiatan bisnis, termasuk pengelolaan data dan kolaborasi tim.
Menurutnya, perusahaan perlu memastikan teknologi yang digunakan mampu mengikuti pertumbuhan data sekaligus menjaga keamanan informasi.
“Penerapan AI perlu didukung infrastruktur yang mampu mengimbangi pertumbuhan data, sistem perlindungan yang andal, serta teknologi yang benar-benar membantu meningkatkan produktivitas perusahaan,” ujar Clara, Selasa (13/10).





