“Kalau membicarakan bisnis dalam sebuah organisasi, kita harus punya target, Bapak-Ibu. Target tersebut kemudian diturunkan menjadi target jangka pendek, menengah, dan panjang,” jelas Henry.
Ia juga menegaskan pentingnya menyelaraskan kerja tim agar setiap anggota memiliki arah yang sama dalam menjalankan dan mengembangkan usaha.
Berdasarkan hasil pemetaan, KWT memiliki beragam potensi usaha, baik di bidang budidaya, edukasi pertanian, maupun pengolahan hasil.
Produk yang teridentifikasi meliputi sayuran hidroponik dan konvensional, lele, telur ayam, pisang, bibit tanaman, umbi-umbian serta berbagai produk olahan seperti keripik pisang dan singkong, smoothies pakcoy, nugget lele, manisan pala, peyek, dan nasi kotak.
Calon konsumennya pun beragam, mulai dari warga Mulyaharja dan mahasiswa hingga pengunjung kawasan wisata serta pihak yang berkaitan dengan kegiatan pertanian.
Keberagaman produk tersebut membuka peluang bagi KWT untuk mengembangkan usaha sesuai dengan potensi dan kebutuhan pasar.
Namun, hasil pemetaan juga menunjukkan sejumlah aspek yang perlu diperhatikan, seperti konsistensi kualitas produk, pencatatan keuangan, penguatan merek, dan pemenuhan sarana produksi.
Ketersediaan lahan, rumah tanam (greenhouse), serta peningkatan keterampilan pengelolaan usaha turut menjadi bagian dari kebutuhan yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan kelompok.






