INFOLADISHA – Menyelesaikan lintasan trail run sering menghadirkan kepuasan tersendiri bagi para pelari.
Namun, tidak sedikit yang justru merasakan nyeri pada kaki yang disertai kram, kebas, hingga kesemutan setelah melewati medan yang penuh tanjakan dan turunan.
Keluhan tersebut kerap dianggap sebagai pegal biasa akibat aktivitas fisik.
Padahal, kondisi itu bisa berkaitan dengan iritasi atau tekanan pada saraf yang muncul setelah tubuh bekerja lebih keras selama berlari di medan alam terbuka.
Dibandingkan lari di jalan datar, trail run memberikan beban yang lebih besar pada otot dan sistem saraf.
Baca Juga: Mudah Ditanam di Rumah, Tanaman Herbal Ini Cocok untuk Usia 50 Tahun ke Atas
Permukaan lintasan yang tidak rata membuat tubuh terus menyesuaikan keseimbangan dan koordinasi gerak sepanjang perjalanan.
Saat aktivitas berlangsung dalam waktu lama, jaringan di sekitar saraf dapat mengalami peradangan sehingga menimbulkan tekanan pada saraf.
Akibatnya, muncul rasa nyeri yang disertai kebas dan kesemutan, terutama pada area telapak kaki, betis, paha, hingga tungkai.
Selain faktor saraf, kram juga bisa dipicu oleh kelelahan otot dan berkurangnya cairan tubuh selama berlari.
Kehilangan elektrolit dalam jumlah besar membuat fungsi otot tidak bekerja optimal sehingga risiko kram meningkat.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa gangguan fungsi neuromuskular dan kelelahan otot menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya kram pada pelari maupun atlet.





