INFOLADISHA – Bunyi “krek” dari leher saat diregangkan mungkin sudah tidak asing bagi sebagian orang. Ada yang sengaja melakukannya ketika leher terasa kaku setelah terlalu lama duduk atau bekerja.
Sensasi setelah leher berbunyi sering kali dianggap sebagai tanda bahwa ketegangan pada bagian tubuh tersebut mulai berkurang.
Padahal, yang perlu diperhatikan bukan suara yang muncul, melainkan seberapa kuat dan mendadak gerakan leher dilakukan.
Hal ini penting karena di sekitar tulang leher terdapat pembuluh darah yang memasok kebutuhan darah ke otak.
Dalam kondisi tertentu, gerakan leher yang ekstrem dapat menyebabkan cedera pada pembuluh tersebut. Salah satu bentuk cedera yang dikenal dalam dunia medis adalah diseksi arteri serviks.
Baca Juga: 1.339 Napi Lapas Cibinong Dapat Remisi HUT RI, 11 Orang Langsung Bebas
Kondisi ini terjadi ketika terdapat robekan pada lapisan dinding pembuluh darah. Robekan tersebut dapat mengganggu aliran darah dan memungkinkan terbentuknya gumpalan yang kemudian berisiko mencapai otak.
Karena itu, hubungan antara manipulasi leher dan stroke bukan sekadar mitos. Sejumlah kasus stroke memang pernah dilaporkan berkaitan dengan cedera pada pembuluh darah leher setelah adanya gerakan atau trauma pada area tersebut.
Namun, hal itu juga tidak berarti setiap orang yang membunyikan leher akan mengalami stroke. Kejadiannya tergolong jarang dan tidak bisa disimpulkan bahwa bunyi “krek” semata-mata menjadi penyebab stroke.




