Kasus pada Perempuan di Amerika Serikat
Risiko tersebut kembali menjadi perhatian setelah kisah KayLynne Felthager, perempuan asal Amerika Serikat, beredar di media sosial.
Baca Juga: Doa Lintas Agama di Tugu Kujang, Bogor Titip Harapan untuk NTT hingga Aceh dan Papua
Ia diketahui memiliki kebiasaan membunyikan leher ketika mengalami sakit kepala. Pada suatu kesempatan, setelah melakukan gerakan tersebut, ia justru merasakan nyeri tajam di leher.
Keluhan itu kemudian berkembang. Beberapa hari setelah kejadian, KayLynne mengalami kesulitan menggerakkan kepala hingga gangguan bicara. Setelah mendapatkan pemeriksaan medis, ia dinyatakan mengalami stroke.
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa keluhan yang muncul setelah manipulasi leher tidak seharusnya dianggap sepele, terutama jika disertai gejala neurologis.
Mengapa Gerakan Leher Bisa Berkaitan dengan Stroke?
Dokter saraf Priyam Bordoloi menjelaskan bahwa terdapat arteri karotis dan arteri vertebralis di area leher. Kedua kelompok pembuluh tersebut memiliki peran penting dalam membawa darah menuju otak.
Ketika leher diputar atau digerakkan secara kuat dan tiba-tiba, struktur di sekitarnya dapat mengalami tekanan. Pada situasi tertentu, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan diseksi pada arteri.
Diseksi arteri serviks termasuk salah satu penyebab stroke yang dapat ditemukan pada orang berusia lebih muda, termasuk mereka yang sebelumnya tidak memiliki faktor risiko stroke yang besar.




