Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Erna Nuraena, mengungkapkan bahwa tingginya angka perokok usia muda menjadi alasan utama pihaknya menjadikan pelajar sebagai sasaran program edukasi.
Menurutnya, banyak anak mulai mencoba rokok saat baru lulus sekolah dasar atau memasuki jenjang SMP.
“Kami menyasar anak-anak muda karena angkanya memang cukup mengkhawatirkan. Di Kota Bogor, usia pertama kali anak merokok rata-rata 12,8 tahun. Artinya, saat baru lulus SD atau baru masuk SMP, mereka sudah mulai merokok,” ujarnya.
Erna menambahkan, faktor lingkungan masih menjadi penyebab dominan anak mulai merokok.
Data Dinkes Kota Bogor menunjukkan sekitar 87 persen anak terpengaruh oleh kebiasaan merokok orang dewasa di sekitarnya, paparan iklan, hingga tampilan produk rokok yang mudah dijumpai.
“Sebanyak 87 persen anak terpengaruh karena melihat orang dewasa merokok, melihat iklan, dan melihat display rokok. Ini menjadi perhatian serius bagi kami,” katanya.
Melalui pembentukan Duta KTR, Pemkot Bogor berharap edukasi mengenai bahaya rokok dapat menjangkau lebih banyak pelajar melalui pendekatan teman sebaya.
Program ini juga diharapkan mampu mendorong kesadaran keluarga untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bebas dari paparan asap rokok.





