Keluhan serupa dialami Vahreza. Ia mengatakan gejala mulai terasa pada malam hari setelah mengonsumsi makanan pada Senin, sebelum kondisinya memburuk pada Selasa.
“Makan hari Senin, gejalanya baru terasa malam, lalu Selasa pusing, mual, dan sesak. Sekarang kondisinya mulai membaik,” katanya.
Di sisi lain, kejadian ini memicu kekhawatiran di kalangan orang tua siswa. Mereka berharap pengelolaan makanan dalam program MBG diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang.
Rusli, salah seorang orang tua murid, mengaku panik setelah mengetahui anak-anak mengalami dugaan keracunan.
“Saya panik sebagai orang tua, was-was, dan meminta pengelolaan MBG segera diperbaiki serta diperketat,” tegasnya.
BGN Evaluasi Keamanan Pangan
Menanggapi kejadian tersebut, BGN menyampaikan keprihatinan dan menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah memastikan seluruh siswa terdampak memperoleh penanganan medis yang diperlukan.
KPPG Bogor bersama Tim Asistensi dan Koordinator Wilayah Kabupaten Bogor juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pihak sekolah, fasilitas kesehatan, serta instansi terkait.
Selain menelusuri penyebab dugaan keracunan, evaluasi menyeluruh dilakukan terhadap pelaksanaan program MBG, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.






Respon (1)