Makan bersama, berjalan santai, memasak, menonton film, berbelanja, atau sekadar minum kopi bisa menjadi kesempatan untuk menjaga hubungan.
Tidak perlu setiap pertemuan menghasilkan pembicaraan mendalam.
Justru, momen yang terasa biasa dan tanpa tekanan sering kali menjadi pengalaman yang membuat anak nyaman untuk kembali datang.
Yang perlu dihindari adalah menjadikan setiap kesempatan berkumpul sebagai waktu untuk membahas semua kesalahan dan kekurangan anak.
Jika waktu bersama selalu terasa seperti sidang keluarga, anak tentu punya alasan untuk menjaga jarak.
Orang tua juga perlu berani mengatakan, “Maaf”
Ada anggapan bahwa meminta maaf kepada anak dapat membuat wibawa orang tua berkurang.
Padahal, mengakui kesalahan justru dapat menunjukkan bahwa hubungan tersebut dihargai.
Orang tua bisa salah bicara, terlalu keras dalam merespons sesuatu, atau salah memahami keadaan.
Tidak semua kesalahan harus dibela.
Ketika memang keliru, permintaan maaf yang tulus dapat menjadi cara untuk memperbaiki hubungan.
Anak pun belajar bahwa konflik bukan akhir dari sebuah hubungan. Yang penting adalah kesediaan kedua pihak untuk memperbaikinya.
Dalam keluarga, kemampuan mengatakan “Saya salah” terkadang jauh lebih berarti daripada usaha untuk selalu terlihat benar.
Jangan membuat anak merasa bersalah karena sudah punya kehidupan sendiri





