Kabar baiknya, kondisi tersebut tidak selalu menetap. Kembali melakukan aktivitas fisik secara bertahap dapat membantu tubuh dan pikiran kembali lebih aktif.
Risiko Tak Hanya Muncul dalam Jangka Pendek
Persoalannya menjadi lebih penting ketika pola hidup minim gerak berlangsung terus-menerus.
Ahli neurologi David Perlmutter, MD, menyebut sejumlah penelitian menemukan hubungan antara rendahnya aktivitas fisik dengan risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia.
Salah satu mekanisme yang diduga berperan berkaitan dengan metabolisme dan proses peradangan di dalam tubuh.
Kondisi metabolisme yang terganggu dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi lingkungan di dalam otak.
Dalam proses tersebut terdapat mikroglia, sel kekebalan yang berada di otak dan bertugas memantau sekaligus merespons gangguan pada jaringan otak.
Kondisi metabolisme yang sehat membantu sel tersebut menjalankan fungsi perlindungannya.
Sebaliknya, gangguan metabolisme yang berlangsung berkepanjangan dapat berkaitan dengan meningkatnya proses peradangan.
Karena itu, menjaga tubuh tetap aktif tidak hanya penting untuk kesehatan fisik, tetapi juga menjadi salah satu bagian dari upaya mempertahankan fungsi otak seiring bertambahnya usia.




