Angka tersebut bukan patokan wajib bagi semua orang. Kemampuan fisik setiap individu berbeda, sehingga aktivitas naik tangga tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh.
Ada Hal yang Belum Bisa Dipastikan
Meski hasilnya menarik, penelitian ini belum bisa memastikan bahwa kebiasaan naik tangga menjadi penyebab langsung rendahnya risiko kematian.
Pasalnya, seluruh penelitian yang dianalisis bersifat observasional.
Artinya, peneliti mengamati kebiasaan dan kondisi kesehatan peserta tanpa mengatur siapa yang harus naik tangga dan siapa yang tidak.
Ada kemungkinan orang yang rajin naik tangga juga memiliki kebiasaan sehat lainnya. Mereka mungkin lebih aktif bergerak, rutin berolahraga, atau menjalani pola hidup yang lebih baik secara keseluruhan.
Sebaliknya, orang dengan penyakit jantung berat atau kondisi fisik yang menurun mungkin kesulitan menaiki tangga.
Akibatnya, kelompok yang jarang naik tangga bisa saja sejak awal memiliki kondisi kesehatan yang berbeda.
Karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah naik tangga memang berperan langsung dalam menurunkan risiko kematian.
Perhatikan Kondisi Tubuh Sebelum Mencobanya
Naik tangga memang praktis karena bisa dilakukan tanpa peralatan khusus. Namun, aktivitas ini bukan pilihan yang tepat untuk semua orang.
Penderita osteoartritis atau orang dengan keterbatasan gerak, misalnya, bisa mengalami nyeri atau memiliki risiko cedera lebih tinggi jika terlalu sering menaiki tangga.






